|
|
Jojorong biasanya hanya dapat dinikmati ketika ada hajatan. Misalnya ketika acara sunatan atau pernikahan, jojorong menjadi sajian tuan rumah bagi para tamu disandingkan dengan makanan trandisional lain misalnya pais, pancong, tape, uli, dan makanan lain. Namun kemudian, jojorong dibuat untuk kemudian bisa dirasakan lebih luas lagi.
Tidak mudah untuk mendapatkan jojorong. Jojorong memang tidak terlalu tahan lama karena mudah basi. Semakin banyak mengandung santan, jojorong akan semakin nikmat terasa. Namun, santan ini pula yang membuat jojorong tidak bisa disimpan lebih lama, harus langsung disantap ketika disajikan.
Jojorong berbentuk bulat dengan wadah daun pisang. Daun pisang dibuat bulat dengan pengikat tusukan lidi. Jojorong berbahan dasar tepung beras dan santan kelapa. Adonan dimasukkan ke dalam cetakan daun kelapa. Bagian dalam adonan diberi gula aren atau gula merah. Jojorong mentah ini lalu dimasak dengan cara dikukus.
Jojorong memiliki rasa khas santan. Bagi Anda penikmat kuliner, kejutan rasa tentu menjadi salah satu nilai tambah. Ketika Anda menikmati jojorong, bagian atas berupa santan kental belum terlalu nikmat sebelum sampai menikmati lelehan gula aren yang ada di bawah. Campuran gula aren dan santan kental ini membuat Anda benar-benar menikmati puding super alami.
Jojorong dijual di pasar-pasar tradisional di Pandeglang, meski tidak mudah ditemukan. Biasanya, jojorong dijajakan di kampung-kampung oleh pedagang yang berkeliling dengan menggunakan nyiru atau wadah bulat besar dari anyaman bambu.
Ketika bulan puasa atau ramadhan, jojorong selalu menjadi makanan berbuka yang wajib ada. Saat bulan ramadhan, jojorong lebih mudah didapatkan. Jojorong biasanya berada di bagian depan meja dagangan dan cepat laris tentu saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar